Barcode

Barcode pertama kali diperkenalkan oleh dua orang mahasiswa Drexel Insitute of Technology di Philadelphia (Amerika Serikat). Yaitu Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland pada tahun 1948. Pada perkembanganya, silver dan Woodland akhirnya mengusulkan untuk menggunakan sebuah kode dengan tinta yang sensitive terhadap sinar ultraviolet. Prototype tersebut ditolak karena tidak stabil dan mahal. Tahun 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototype kode batang yang lebih baik dan tepatnya pada tanggal 7 Oktober 1952 mereka mendapatkan hak paten dari hasil penelitian mereka.

Pada tahun 1970, untuk pertama kalinya kode batang temuan keduanya dipakai secara komersil, yaitu pada saat Logicon Inc. membuat Universal Grocery Products Indentification Standard (UGPIC). Sedangkan perusahaan pertama yang memproduksi perlengkapan kode batang untuk perdagangan retail adalah Monach Marking. Selanjutnya semenjak tahun 1973, Uniform Code Council, sebuah organisasi industry membuat Uniform Product Code (UPC) yang menyediakan suatu standar bar code yang dapat digunakan oleh took-toko ritel. Beberapa kode standar yang telah dikembangkan selama beberapa tahun, yang biasa disebut dengan simboligi. Simboligi yang digunakan tentunya berbeda untuk aplikasi yang berbeda. Hal itu misalnya ketika anda menggunakan huruf miring ataupun tebal yang dimaksudkan untuk memperjelas makna tertentu pada teks yang akan dibuat sebagai barcode. Simbologi yang berbeda digunakan untuk aplikasi yang berbeda pula. Jadi ketika anda mencetak barcode, anda akan bisa membaca makna sandinya selama menggunakan sandi yang sama, dan dalam spesifikasi yang diatur dalam standar barcode.

Defenisi Barcode

Ada banyak defenisi barcode, tetapi semua definisi tersebut merujuk pada satu hal yang sama, diantaranya:

Barcode secara harfiah berarti kode berbentuk garis.
Sebagai kumpulan kode yang berbentuk garis, dimana masing-masing ketebalan setiap garis berbeda sesuai dengan kodenya.
Informasi terbacakan mesin (Machine readable) dalam format visual yang tercetak. Umumnya barcode berbentuk gari-garis vertical tipis tebal yang terpisah oleh jarak tertentu.
Sejenis kode yang mewakili data atau informasi tertentu, biasanya jenis dan harga barang, seperti makanan dan buku. Kode berbentuk batangan balok dan berwarna hitam putih ini mengandung satu kumpulan kombinasi batang yang berlainan ukuran yang disusun sedemikian rupa. Kode ini dicetak diatas stiker atau pada pembungkus barang.
Barcode atau kode baris adalah garis-garis hitam yang dibuat secara unik menurut kode tertentu, umumnya digunakan sebagai identifikasi terhadap suatu objek atau barang. Bila diamati, barcode berbentuk garis-garis hitam sejenis kode batang. Kode batang adalah kumpulan batang yang kebanyakan berwarna hitam dan putih yang bisa diterjemahkan menjadi sebuah angka yang mewakili data atau informasi tertentu. Kode berbentuk batangan balok dan berwarna hitam putih ini mengandung satu kumpulan kombinasi batang yang berlainan ukuran yang disusun sedemikian rupa. Kode ini biasanya dicetak di atas stiker atau di kotak bungkusan barang.

Manfaat Barcode

Terciptanya sesuatu, baik dalam dunia teknologi informasi ataupun ilmu pengetahuan lainnya, tentu memiliki fungsi atau kegunaan (baik dilihat dari sisi negatif ataupun positif). Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penggunaan barcode, antara lain:

1. Akurasi, meningkatkan akurasi dengan mengurangi kesalahan manusia dari pemasukan data secara manual atau item yang salah baca atau salah label.

2. Kemudahan Pemakaian, dengan hardware dan software yang tepat dapat memaksimalkan proses otomatisasi pengumpulan data. Tentu lebih mudah membuat inventarisasi dengan system barcode dibandingkan dengan cara manual.

3. Keseragaman Pengumpulan data, beragam standar pemenuhan dan simbologi barcode yang terstandarisasi menjamin informasi diterima dan disampaikan dengan cara yang benar sehingga bisa diterima dan dipahami secara umum.

4. Feedback yang tepat waktu, barcode menawarkan feedback yang tepat waktu. Begitu muncul, data bisa diterima dengan cepat sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat berdasarkan informasi terbaru.

5. Keamanan, pada bisnis retail seperti supermarket, banyak pembeli nakal yang menukar label harga produk dengan label harga yang lebih murah. Kesalahan yang sama bisa terjadi pada saat menempel label maupun pada saat kasir menghitung total belanja. Dengan menggunakan barcode, kemungkinan ini dapat ditekan.

Perkembangan Teknologi Barcode

Mayoritas penggunaan barcode di seluruh dunia mengikuti standar yang ditetapkan European Article Number Association (EANA). Kecuali amerika serikat dan Kanada. Kedua Negara tersebut menggunaka standar tersendiri, yaitu standar yang ditemukan pada tahun 1973 oleh George J. Laurer. Standar ini dikenal dengan nama Universal Product Code (UPC).

Beberapa barcode standar telah dikembangkan selama beberapa tahun yang biasa disebut dengan simbologi. Simbologi yang digunakan tentu berbeda untuk aplikasi yang berbeda, seperti ketika kita menggunakan huruf miring ataupun tebal untuk memperjelas makna teks. Simbologi yang berbeda, seperti “sandi Bentuk Batang”, digunakan untuk aplikasi yang berbeda pula.

Simbologi barcode dibedakan dalam 2 jenis, dalam bentuk linier dan dimensional. Simbologi barcode linier berisi garis-garis hitam yang berjajar, dan garis putih dengan ukuran tinggi dan lebar tertentu. Untuk simbologi dimensional, yang bisa diatur dalam format tegak lurus atau matriks, yang berupa sandi segiempat khusus, sehingga bisa lebih banyak menyimpan informasi.

Jumlah sandi yang bisa dibaca pada simbologi barcode linier lebih terbatas dibandingkan simbologi barcode dua dimensi. Berikut penjelasan tentang teknologi yang diterapkan pada barcode:

1. Teknologi Laser,

Menggunakan diode laser berkekuatan 650 ns. Laser ini setara dengan kekuatan laser pada pointer presentasi.prinsipnya dengan menambahkan sebuah motor yang bergerak ke kiri dan kanan secara cepat maka titik laser akan membentuk sebuah garis. Garis laser ini yang membaca barcode dan menerjemahkannya ke dalam sandi ASCII. Karena barcode laser ini menggunakan motor, maka barcode scanner jenis ini rentan rusak jika terjatuh. Walaupun beberapa produk telah di uji drop test 1-1.5 M pada Concentrate drop test, tetap saja lebih rentas bila di bandingkan dengan barcode yang menggunakan teknologi CCD.

2. Teknologi CCD,

Charge Coupled Device menggunakan sinar infrared, berbeda dengan system laser seperti yang dipakai pada kamera. Kepekaan pembacaan CCD masih dibawah system laser, pembacaan CCD tidak perlu tegak lurus tetapi menggunakan sudut. Pembacaan dengan scanner CCD mensyaratkan supaya sinar dan objek barcode didekatkan pada jarak maksimal 2cm. jenis barcode scanner ini lebih kuat dan tahan banting.

Kepekaan CCD dapat di bedakan menurut resolusinya, untuk CCD model lama masih menggunakan 1000 piksel, sedangkan untuk CCD berkualitas sudah menggunakan 2000 piksel. Untuk teknologi 2Mp memungkinkan scanning CCD dengan jarak 20 cm, disebut dengan kelas Mid Range CCD atau pembacaan sampai 30 cm disebut kelas Long Range Scan Distance CCD.

3. Teknologi Linier Imager,

Teknologi yang terbaru menggunakan Linier imaginer red lead. Dengan mengusung kapasitas mulai 2000-2500 piksel, teknologi ini menggabungkan kepekaan laser, kekuatan CCD, ditambah dengan kemampuan untuk membaca barcode 2 dimensi.

Sumber & referensi :
https://rudhycs.wordpress.com/2013/12/16/sejarah-barcode/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kode_batang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s